Cara Membenci Said Aqil Siradj yang Tepat dan Bijaksana

Prof. Said Aqil Siradj


Mujahid 212 - Siapa yang tak kenal dengan Prof. Said Aqil Siradj?. Tokoh nyentrik, kontrofersial ketua PBNU dua priode yang pendapatnya bertebaran di sosial media. Dari mulai isu syiah, jenggot, antara jubah surban dan anjing, NU cabang Kristen, hingga yang terakhir pencatutan nama ormas secara ilegal untuk memuaskan ambisinya dalam membubarkan ormas Islam seperti HTI dan FPI.

Seolah telah putus sarafnya, terkadang karena tingkahnya kita sendiri sering terlalu kelewatan dalam membenci. Nah, kali ini redaksi Mujahid 212 akan mengulas panduan yang aman dalam membenci tokoh kontrofersial satu ini.

Benci Said Aqil tidak Boleh Benci NU


Bagaimanapun Nahdlotul Ulama (NU) adalah aset umat Islam Indonesia yang perlu dirawat. Sumbangsihnya terhadap Indonesia tidak bisa diragukan lagi. Begitu banyak kontribusi yang jika dituliskan tidak ada rangkaian kata dan jumlah kata yang cukup. Dari NU banyak ulama wara' dan zuhud, mendidik para santri dengan kesabaran dan terkadang tidak dikomersilkan.

Jika anda membenci Said Aqil langkah pertama agar bijaksana adalah jangan memukul rata. NU adalah organisasi yang tidak memiliki andil untuk menyakiti dan memecah belah umat Islam.

Boleh Membenci Tahu Porsi dan Posisi

Siapa yang bisa menghilangkan rasa marah dan benci? Tidak ada. Soal rasa itu semua bersifat alamiah. Naluriah. Semua manusia jika dihina akan sakit dan marah. Begitupun soal rasa benci. Tapi bagaimana membuat rasa benci ini menjadi halal? Maka jawabannya adalah bencilah pemikirannya, jangan benci orangnya. Kalau kita membenci sosok, maka seberapa benar dikemudian hari ucapan orang yang kita benci, maka tak akan kita terima.

Nah meletakan rasa benci dengan porsi dan posisi yang tepat seperti ini yang harus mulai kita lakukan. Agar benci kita menjadi halal dan di ridhoi. Bencilah kekufuran, kemusyrikan, ide liberal karena itu sesuatu yang disyariatkan. Tapi kalau benci orang, apalagi sudah menyinggung hal fisik, stop dulu ya.. Hal ini juga berlaku pada Bpk. Said Aqil.


Waspada Penampilan Sarungan namun Otak Liberal

Nah, yang tak kalah penting dalam membenci yang halal adalah tetap waspada dengan lisan orang-orang yang alim tapi suu' (buruk). Maksudnya mereka tampil terdepan membela sarung dan celana cingkrang, tapi sewaktu menyampaikan pada umat yang dibawa adalah prodak liberalisme. Mereka bicara tafsir Qur'an dengan perspektif Leiden. Jargon tradisional yang menipu seperti itu harus kita luruskan.

Nah, Bagaimana Rasa Bencimu Sudah tertata?

Ditulis oleh: Santri Kalong (Pimred Mujahid 212)



close