Terimakasih HTI; Letih Juangmu Memercik Inspirasi untuk Kami Tapaki



Mujahid 212 - Sosok paruh baya yang murah senyum dan bercahaya itu kini terlihat bermata sayu tanda letih. Peci hitam yang dikenakan selalu berpadu dengan potongan koko dan celana gelap tidak cingkrang. Beliau Ust. Ismail Yusanto, Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Gesturnya yang sangat nusantara ini ternyata ditakuti rezim. Akhir-akhir ini banyak malamnya yang tidak digunakan untuk istirahat, kepentingan dakwahlah yang membuatnya terus bergerak, padahal beliau adalah 'lelaki bercincin'. Dalam jantungnya sudah dua ring yang dipasang karena penyakit jantung koroner. Sebuah penyakit mengerikan yang sering disebut the silent killer.

Saat dicandai kawannya mengapa masih enerjik dalam dakwah padahal kondisinya memprihatinkan, beliau selalu menjawab dengan tawa kecil, "karena saya sudah tahu umur saya tidak lama, maka saya lebih semangat (berdakwah)". Tuturnya.

Dari sosok beliau ratusan sikap resmi HTI terhadap persoalan krusial-kontemporer negeri ini selalu keluar.

Hizbut Tahrir dalam Perspektif yang Ramah

Isu sentral seputar Neoimprealisme dan Neoliberalisme selalu dikritik habis lewat perspektif Islam. Dari pemimpin negara hingga pemimpin keluarga dikupas dalam forum kajian rutin mingguan. Perkantoran, sekolah, kampus, pesantren, hingga perusahaan tak luput dari pembinaan HTI. Gagasannya yang ramah dan rasioanl dengan penyampaian yang santun menjadi magnet yang menarik buih umat Islam agar memperdalam dan menerapkan Islam di setiap sendi kehidupan. Dalam perspektif yang ramah, begitulah wujud HTI sesungguhnya.

Mungkin kita tidak pernah tahu dibalik kesadaran berhijab dan menolak pacaran/pergaulan bebas pada generasi Islam hari ini, ada banyak pemuda-pemudi HTI yang rela mewakafkan diri untuk bekerja siang malam yang bahkan tanpa bayaran sejak lebih dari 10 tahun silam. Sebuah komitmen besar kampanye HTI untuk memperbaiki generasi muda Islam dari pergaulan bebas dampaknya bisa kita rasakan saat ini.

Belum lagi dikalangan mahasiswa, karakter Islam yang Syamil, kaamil dan mutakammil dibangun untuk menghantam arus liberalisme dalam ranah akademik. Penolakan terhadap demokrasi-kapitalisme, sosialisme-komunisme merupakan isu sentral yang diangkat di ruang kuliah, taman kampus, masjid. hingga jalanan.

Tak tercatat jutaan umat Islam yang sadar akan pentingnya kembali melanjutkan kehidupan Islam, meyakininya, mengambilnya, memerjuangkannya dan menerapkannya.

Gagasan Islam untuk mengentaskan problematika Nusantara diglorifikasi rezim menjadi stigma 'Inspirasi Radikal'.

Gagasan solusi Islam untuk mengentaskan problematika Nusantara yang saat ini dalam cengkraman Neoliberalisme dan Neoimprealisme inilah yang secara sadar telah diglorifikasi rezim menjadi stigma 'Inspirasi Radikal'.

Titik tekan 'Gagasan' ini sebetulnya yang hanya menjadi domain perjuangan HTI. Pasalnya dakwah yang diadopsi hanya sebatas penyampaian dan ajakan.

Sebuah video singkat menjelaskan bagaimana tahapan dakwah hizbut tahrir sesungguhnya telah lama beredar. Berikut redaksi  Mujahid 212 tampilkan



Terimakasih HTI; Letih Juangmu Memercik Inspirasi untuk Kami Tapaki

Sebelum mencuat spirit 212 dengan ditandai tumbangnya Ahok karena arogansi dan kesombongannya, HTI lebih dulu vokal dalam memposisikan diri sebagai rival. Aksi Tolak Pemimpin Kafir pada 4 September 2016 yang menghadirkan 20 ribu masa di patung kuda monas salah satu contohnya. Apa yang terjadi? Setelahnya respon Ahok terhadap aksi tersebut dicurahkan lewat kasus video Boby, Mahasiswa Pascasarjana UI yang menjadi salah satu kader HTI lewat blow Up media mainstream, Tak puas dengan itu, munculah video Ahok yang menista Al Qur'an di pertengaan Oktober sebagai respon dari opini yang semakin besar di masyarakat.

Rentetan peristiwa ini terus menggelinding bak bola salju hingga mencuat persatuan Islam lewat 411 dan 212.
aksi  Tolak Pemimpin Kafir, Ahad (04/09/2016) di Patung Kuda, Monas, Jakarta.
aksi  Tolak Pemimpin Kafir, Ahad (04/09/2016) di Patung Kuda, Monas, Jakarta.

Kalahnya Ahok di Pilkada bukan soal sederhana, terpecahnya masyarakat Indonesia menjadi dua kubu, dan terlihat sikap rezim terhadap kaum muslimin, menjadikan gong kampanye anti radikalisme yang gila sebagai jalan keluar. Semua perangkat rezim dikerahkan; Polri, Kemenristek, Kemenkumham, Kemendagri, Kemeninfo, hingga LSM dan Ormas yang mendukung rezim digunakan sebagai alat pukul. Tentu alasannya klasik seperti yang telah dicontohkan sebelumnya. Pancasila dijadikan alat pukul bagi yang tidak sejalan dengan kepentingan.

Begitulah redaksi Mujahid 212 menangkap semua fragmen peristiwa saat ini dalam kacamata yang lebih ramah. Dan HTI telah menjadi inspirasi bagaimana dakwah yang hanya 'omong doang' itu teramat besar dampaknya untuk perubahan. Tetap bersatu, kencangkan ikat pinggang!. Tahun-tahun kedepan Wallahu a'lam. []


Ditulis Oleh: Santri Kalong (Pimred Mujahid 212)

close