17 Agustus Teriak ''Merdeka, Merdeka!'', Kok yang Terdengar ''Meikarta, Meikarta!'' ?



Mujahid 212 - Sebentar lagi 17 Agustus, hari bersejarah dimana negeri ini secara sah dinyatakan merdeka. Pada Jumat siang 1945 di bulan puasa, para pahlawan menaruh bambu runcing tanda menang. Para santri begitu lega terlepas dari jerat kafir penjajah Jepang - Belanda.

Ah, rasa-rasa baru kemarin kita mensyukuri nikmat kemerdekaan dengan khidmat sekali. Sesekali dalam menyukuri nikmat ini kita rehat santai sambil gayeng panjat pinang. Namun waktu yang bergulir menyisakan sesak. Sesak yang muncul menyisakan Tangis. Rehat kita terlalu bablas hingga penjajahan tak disangka sudah kembali di depan mata.

Dominasi kapitalisme timur (Cina. Red.) telah merangsek masuk ke kancah ekonomi hingga merusak struktur sosial kita. Titisan Mao Zedong pada rezim Cina sekarang membuat negeri ini kembali diperkosa. Lewat Meikarta, sebuah projet ambisius untuk menampung manusia sejuta, Cina bermanuver untuk ekspansi Indonesia. Geliat picik membabat Infrastuktur kita, soal tenaga kerja juga habis dilibas dia. Oh.. Merdeka! Merdeka! Merdeka, Meikarta! Eh.

Polemik Meikarta sudah kenyang dengan banyaknya berita, andai saja ia hal sepele, tentu pada kemerdekaan kali ini cukup mampu bagi bangsa ini untuk meneken kontrak pembatalan, atau kalau perlu buat perppu agar mereka diam. Tapi kedaulatan semacam basa-basi, obrolan warung kopi yang tak ada esensi. Formalitas didahulukan, popularitas dikedepankan, Kebijakan merugikan rakyat suruh bersabar. Ini ujian.

Maka menjadi makjleb sekali bagi redaksi Mujahid 212 kali ini untuk mengutip status sahabat muslim kita di facebooknya.
Banyak orang teriak-teriak, "Merdeka! Merdeka!"
Tapi di kuping saya terdengar, "Meikarta! Meikarta!" []


Rubik redaksi ini diasuh oleh Santri Kalong
close