Belajar Politiklah! Kelak akan Tahu bahwa Ancaman Terhadap Agama Ini Tidak Main-main


Setelah memahami politik, kita semakin tahu, bahwa umat Islam hari ini sedang digempur di berbagai arah. Willy Claes, yang pernah menjabat sebagai Sekjen NATO, menegaskan bahwa “Fundamentalisme Islam setidaknya sama bahayanya dengan Komunisme.” Dia juga menegaskan, “Aliansi telah menempatkan Islam sebagai target karena permusuhannya terhadap Uni Soviet” Sementara pada tahun 1996, surat kabar The New York Times menegaskan, “Ancaman Merah sudah hilang. Yang berikutnya adalah Islam.” National Intelligence Estimates (NIE) telah menganggap Islam sebagai ancaman jangka panjang tidak hanya bagi dominasi AS, tapi juga bagi peradaban Barat itu sendiri. Kaum Muslim yang bersatu dalam Islam sebagai sistem pemerintahan adalah kasus skenario terburuk bagi AS dan akan menjadi mantra bencana bagi supremasi global AS.

Mujahid 212 - Pembaca yang budiman, dibenak kita sungguh telah menancap kuat sebuah kesan buruk dari aktivitas politik. Hampir sebagian orang memandang aktivitas politik adalah aktivitas kotor, umpur, banyak pelicin, dan bukan ajaran agama, Benar?. Nah, artikel yang redaksi Mujahid 212 sajikan kali ini justru akan bersebrangan dengan apa yang telah bersarang di benak pembaca.

Sebuah artikel dari seorang pengamat politik internasional, Umar Syarifudin, dengan judul asli 'Berpolitiklah!' dengan penuh kesadaran redaksi sajikan mengingat banyak pemahaman keliru soal berpoliik. Mari kita simak bersama.!

***

Aktivitas politik merupakan aktivitas tertinggi dan paling bernilai, karena ia berkaitan dengan politik, yaitu pemeliharaan urusan rakyat. Sebab (aktivitas politik) ini mengalihkan manusia dari lingkaran yang hanya peduli pada dirinya sendiri kepada peduli terhadap orang lain. Bahkan dengan aktivitas politik ini saja umat akan bangkit dari keterpurukan dan kemerosotannya. Sehingga kemudian menjadikannya pemimpin dan pelopor, setelah sebelumnya ia tidak memiliki pengaruh sama sekali (hizb-ut-tahrir.info, 16/5/2014).

Dengan memahami politik, kaum muslim makin menyadari bahwa Barat dalam kampanye terhadap Dunia Islam terus mengatakan akan mendukung hak-hak kebebasan, demokrasi dan HAM. Barat di negara masing-masing hancur dengan mengorbankan penduduk di dalam negeri. Hal ini bukanlah penyimpangan dari nilai-nilai liberal, namun sebenarnya adalah kepatuhan total atas nilai-nilai mereka. Rezim kapitalis di dunia Barat selalu membangun kebijakan luar negeri mereka berdasarkan kepentingan korporasi (perusahaan). Kebijakan kolonial seperti itu muncul untuk mempertahankan dominasi mereka sendiri di dunia; juga untuk mengeksploitasi dan menjarah negara-negara yang lebih lemah dengan cara-cara ekonomi, politik dan militer. Dukungan Barat kepada para rezim tiran hanyalah salah satu alat dalam kebijakan yang lebih luas yang telah berusia berabad-abad ini.

Setelah memahami politik, kita semakin tahu, bahwa umat Islam hari ini sedang digempur di berbagai arah. Willy Claes, yang pernah menjabat sebagai Sekjen NATO, menegaskan bahwa “Fundamentalisme Islam setidaknya sama bahayanya dengan Komunisme.” Dia juga menegaskan, “Aliansi telah menempatkan Islam sebagai target karena permusuhannya terhadap Uni Soviet” Sementara pada tahun 1996, surat kabar The New York Times menegaskan, “Ancaman Merah sudah hilang. Yang berikutnya adalah Islam.” National Intelligence Estimates (NIE) telah menganggap Islam sebagai ancaman jangka panjang tidak hanya bagi dominasi AS, tapi juga bagi peradaban Barat itu sendiri. Kaum Muslim yang bersatu dalam Islam sebagai sistem pemerintahan adalah kasus skenario terburuk bagi AS dan akan menjadi mantra bencana bagi supremasi global AS.

Setelah memahami politik dalam sudut pandang Islam, kita menjadi paham akan sifat beracun demokrasi, yang terus menjadi alasan bagi dilakukannya intervensi militer Barat di negeri-negeri Muslim. Sementara di dalam negeri baik di Amerika Serikat dan Inggris serta Perancis, Jerman dan Italia semuanya mendapatkan hasil racun dari demokrasi, tetapi terus menyebarkan sistem pemerintahan yang korup ini di dunia Muslim. Dan di negeri-negeri muslim, demokrasi memanipulasi rakyat bahwa aspirasi mereka akan diwujudkan. Yang benar demokrasi hanya menjadi alat kekuasaan para pemilik modal dan elit parpol.

Akhirnya, setelah kita mengenali gejala, tanda, dengan kenyataan yang ada dan berbagai pernyataan dari Barat, maka situasinya adalah kemenangan Dunia Islam yang memiliki keunggulan populasi, umat beragama, kekuatan, besaran dan kendali terhadap benua, ekonomi dan militer, kemauan politik, dan kekuatan ideology, dimana umat Islam sedang bergerak ke arah penyatuan umat Islam di bawah satu Khilafah, dan ini merupakan hal realistik. Khilafah adalah solusi komprehensif untuk menjawab kebohongan media yang dikuasai oleh kaum Kapitalis.

Berpolitiklah. Karena Anda adalah orang-orang yang mampu mencabut rezim dan sistem kapitalisme yang zalim. Anda juga mampu menciptakan keadilan dalam sistem Islam dengan mengokohkan tekad dan harapan agar sikap bijak Anda saat ini, menjadi pembuka bagi perubahan yang besar yang memuliakan Islam dan umatnya, mengembalikan kesatuan negeri-negeri Islami sehingga kehormatannya menjadi satu, kekayaannya menjadi satu dan perang dan damainya juga satu, serta untuk merealisasi kehidupan yang baik dan mulia.[]

close