Di Usia Senja Masih Sempat Berkata: Apa Salahnya Hiburan Tari Perut di Peluncuran Buku?

Tari Perut Anwar Nasution

Mujahid 212 - Saat ini tokoh yang muncul dan diblow up media sudah hancur. Keprihatinan kita tentu pada saat kepribadian Islam tak lagi nampak di layar publik yang dicontohkan oleh para tokoh.

Berita terbaru muncul dari portal berita kumparan.com soal polemik kemaksiatan di acara besar, Tarian Perut pada peluncuran buku Anwar Nasution yang diliput berbagai media mainstream.

Tentu yang diharapkan kita semua adalah ketika berita busuk perusak moral ini viral, yang muncul adalah klarifikasi dan permintaan maaf. Namun ternyata lain. Komentarnya penuh candaan dan menyakitkan. Apa salahnya tari perut dipeluncuran buku?

Berikut redaksi hadirkan utuh dari situs kumparan.com :

Anwar Nasution: Apa Salahnya Hiburan Tari Perut di Peluncuran Buku?

Prof. Dr. Anwar Nasution menanggapi santai kehebohan yang dipicu atraksi tari perut saat peluncuran bukunya pada Senin (7/8) lalu. Anwar menilai atraksi tari perut itu hanya sebuah hiburan, sama dengan hiburan tarian lain seperti tari Bali atau tari Jawa Tengah.

Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia ini menyebut ia sama sekali tidak tahu ada ada aksi tari perut di Peluncuran Buku 75 Tahun Prof Dr Anwar Nasution tersebut.

"Itu tanyakan sama panitianya. Saya kan sakit, tangan saya sempat patah. Jadi saya serahkan ke panitia," ujar Anwar ketika dihubungi kumparan (kumparan.com), Kamis (10/8).

Anwar mengaku hanya meminta kepada panitia supaya penyanyi Putri Ayu hadir sebagai penghibur acara. "Saya cuma minta ada Putri Ayu, sisanya saya serahkan ke panitia," ujarnya.

Mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan ini mengaku heran kenapa atraksi tari perut itu dipermasalahkan banyak pihak.

"Kenapa tercoreng? Kalau mau ngasih sumbangan di acara tari perut apa salahnya? Ini kan sama saja ada tari Jawa, tari Bali, tari tor-tor dari Batak. Apa salahnya? kata Anwar sambil tertawa.

Siapa Anwar Nasution?

Dari WIkipedia:

Prof. Dr. Anwar Nasution (lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, 5 Agustus 1942; umur 75 tahun) adalah seorang ahli ekonomi Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) sebelum menjabat Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Indonesia (BPK).

Pada tahun 2006, Anwar memperoleh gelar Yang Dipertuan Tuanku Raja Pinayungan Nan Sati, sebagai pewaris keturunan Raja Pagaruyung Minangkabau yang telah bermigrasi ke Mandailing sejak abad ke-16. Anwar adalah generasi ke-16 dari Gurga Pinayungan Tuanku Raja Nan Sakti. []

close