Ngebet Jadi Gubernur, Dedi Mulyadi jadi Objek Cyberbully Akibat Foto Ini


Mujahid 212 - Bupati Purwakarta yang kontroversial, Dedi Mulyadi kini tengah dipersiapkan PDIP dan Golkar untuk maju di Pilgub Jabar nanti.

Namun foto pecitraan yang kadung viral tersebut menjadi objek bully netizen yang memang sudah muak dengan kampanye pencitraan.

Seorang aktivis berdarah Tionghoa, Zeng Wei Jian menyoroti operasi mimicking (pencitraan) dari bupati Purwakarta ini lewat status yang diunggah di Facebooknya pada Kamis (17/07),

Akibat ngebet pengen jadi Gubernur Jabar, pemuda ini merilis "Operasi Mimicking". Nama pemuda itu, Deddy Mulyadi. Bupati Purwakarta. Diusung kolaborasi failed Partai Golkar dan PDIP.
MIMICKING OPERATION adalah konsep taktikal. Sebagai bentuk deception (penyamaran). Awalnya, dikultivasi sebagai taktik, tehnik dan prosedur serangan teroris.
Pencitraan eksesif Deddy Mulyadi bermetode mimicking operation ini jadi obyek cyberbully. Berlumuran lumpur sawah, entah siapa yang ingin dia tiru (mimicking). Apakah petani atau kerbau. Tidak jelas.
Adapun foto yang dikritik beliau adalah foto di bawah ini



Siapakah Dedi Mulyadi?

H. Dedi Mulyadi, S.H. (lahir di Sukasari, Subang, 11 April 1971; umur 46 tahun) adalah Bupati Purwakarta petahana. Ia dilantik pada tanggal 13 Maret 2008. Sebelum jadi Bupati, Dedi Mulyadi menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Purwakarta dan menjadi Wakil Bupati Purwakarta pada periode (2003-2008) bersama Lily Hambali Hasan. Pada Pilkada 2013, Dedi Mulyadi terpilih kembali menjadi Bupati Purwakarta untuk periode 2013-2018 berpasangan dengan Dadan Koswara.[1]

Pada 23 April 2016, Dedi terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Periode 2016 - 2020 menggantikan Irianto MS Syafiuddin atau biasa yang dikenal dengan nama Yance.

Kasus Kemusyrikan

Ulasan tentang kemusyrikan Dedi dan kerasnya terhadap Habieb Rizieq bisa disimak pada tulisan berikut yang redaksi Mujahid 212 dari Pekanews:

Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, sejak memimpin Purwakarta terus berusaha menghidupkan kembali ajaran “Sunda Wiwitan”, sehingga ia menghiasi Purwakarta dengan aneka patung pewayangan seperti patung Bima dan Gatotkaca, bahkan ditambah dengan aneka patung Hindu Bali.

Dia pun mengaku telah melamar Nyi Loro Kidul dan mengawininya. Selanjutnya, ia membuat Kereta Kencana yang konon katanya untuk dikendarai sang isteri, Nyi Loro Kidul. Kereta Kencana tersebut dipajang di Pendopo Kabupaten Purwakarta, dan diberi kemenyan serta sesajen setiap hari, lalu dibawa keliling Purwakarta setahun sekali saat acara Festival Budaya, dengan dalih untuk membawa keliling Nyi Loro Kidul buat keberkahan dan keselamatan Purwakarta.

Dedi juga menganjurkan agar siapa yang mau selamat lewat di jalan Tol Cipularang agar menyebut nama Prabu Siliwangi. Dan beberapa tahun lalu, Dedi juga pernah menyatakan bahwa suara seruling bambu lebih merdu daripada membaca Al-Qur’an.

Selain itu, pohon-pohon di sepanjang jalan kota Purwakarta diberi kain “Poleng”, yaitu kain kotak-kotak hitam putih, bukan untuk “Keindahan”, tapi untuk “Keberkahan” sebagaimana adat Hindu Bali, dan Dedi pun mulai sering memakai ikat kepala dengan kembang seperti para pemuka adat dan agama Hindu Bali.

Dedi tidak bangga dengan Islamnya, tapi ia bangga dengan patung, sesajen dan takhayyulnya, yang dikemas atas nama Kearifan Lokal (Local Wisdom).

Saat banyak Ulama dan para Da’i mulai memprotes dan mengkritik peri laku “Syirik” Dedi, maka serta merta Dedi membuat Perbup (Peraturan Bupati) tentang larangan ceramah provokatif yang menentang kebijakannya.

Belakangan, Dedi mulai sering meninggalkan Salam Syariat Islam “Assalaamu ‘Alaikum” dan diganti dengan Salam Adat Sunda “Sampurasun”. Dimana saja dan kapan saja, Dedi terus mengkampanyekan aneka budaya “Syirik” nya yang dibungkus dengan nama “Adat” dan “Budaya”, serta dikemas dengan salam santun masyarakat Sunda “Sampurasun”.

Bahkan Dedi dalam salah satu bukunya yang berjudul SPIRIT BUDAYA menyebut bahwa Islam adalah BUDAYA. Padahal, Islam adalah Aqidah, Syariat dan Akhlaq yang bersumber dari WAHYU ALLAH SWT, sedang Budaya bersumber dari akal pemikiran dan perilaku manusia.

Pada halaman latar belakang buku tersebut tertulis : “Warga Baduy mengajarkan kepada kita untuk tidak melawan alam. Dalam pemahaman saya (Dedi Mulyadi, red) merekalah yang beragama dan yang bertuhan secara benar.”

Selanjutnya di halaman 16 tertulis : “Kebudayaan itu derajat manusia, persis seperti agama.” Lalu pada halaman 17 : “Saya sendiri menginginkan Sunda yang sesuai dengan wiwitan atau identitas awalnya, Sunda yang menyerahkan diri terhadap alam yang tidak mengenal simbolisasi penyembahan.”

Akhirnya, banyak kalangan pemuka masyarakat Islam Purwakarta menyebutkan bahwa Dedi bukan sedang memasyarakatkan “Sampurasun”, tapi sedang merusak umat Islam Purwakarta dengan “Campur Racun”.

Tentu kita setuju, bahwasanya Dedi Mulyadi memang bukan sedang memasyarakatkan kesantunan salam Sunda “Sampurasun”, tapi dia memang sedang merusak umat Islam Purwakarta dengan “Campur Racun”, yaitu meracuni aqidah umat dengan aneka perbuatan “Syirik”.

Karenanya, kami serukan jaga kesantunan ADAT “Sampurasun” dalam rawatan SYARIAT “Assalaamu ‘Alaikum”, sehingga ADAT dan SYARIAT tetap seiring sejalan.

Ayo, selamatkan “Sampurasun”, dan tolak “Campur Racun”.


close