Akibat Perppu Ormas, Opini Kecaman terhadap Pemerintah Myanmar Tidak terlalu Kencang



Pantauan Mujahid 212, saat ini jutaan simpatisan dan mantan anggota HTI telah masuk dan melebur tanpa badan pada aksi-aksi yang akan dilakukan untuk merespon kebiadaban rezim Myanmar, namun tidak memiliki cukup kekuatan untuk mengkoordinir dan menyeimbangkan opini.

Mujahid 212 - Perppu Ormas yang menjadi gong dimatikannya gerakan Islam, berdampak pada kurang massifnya opini kecaman terhadap kebiadaban terhadap muslim Rohingya di Myanmar yang sudah diambang batas.

Salah satu ormas Islam yang biasanya terdepan turun dengan memiliki anggota dan simpatisan jutaan adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Semenjak pembubaran yang dilakukan pemerintah pada Juni lalu, opini dengan ciri khas demonstrasi yang massif dengan solusi inti yang menghujam berupa "seruan kepada penguasa negeri Islam untuk kirim pasukan" kini tidak lagi terdengar.

Padahal pentingnya seruan kirim pasukan ini adalah opini penyeimbang dari opini lain semisal bantuan kemanusiaan, usir Dubes, dan kecaman-kecaman lain.

Ibarat sebuah bangunan, opini masa terhadap isu brutal semacam ini dibutuhkan opini utuh yang saling melengkapi. Jika hal ini sukses tentu akan berdampak dan nyaring terdengar di telinga rezim bahkan akan sampai kepada dunia.

Pantauan Mujahid 212, saat ini jutaan simpatisan dan mantan anggota HTI telah masuk dan melebur tanpa badan pada aksi-aksi yang akan dilakukan untuk merespon kebiadaban rezim Myanmar, namun tidak memiliki cukup kekuatan untuk mengkoordinir dan menyeimbangkan opini.

Maka saat teman HTI sudah tidak ada, jangan hilangkan seruan yang selalu diperjuangkannya. Mari bersama lawan kedzaliman terhadap umat Islam. Bersatulah! Saling bantulah!. []
close