Jangan Percaya jika Media Berkata: Rohingya Bukan Konflik Agama


Mujahid 212 - "Rohingya sebenarnya bukan konflik agama", begitulah media mainstream terus teriak dan membingungkan umat. Sebelumnya saat Palestina, Uighur, Syria dan Bosnia membantai umat Islam secara membabi buta, media juga tetap bersuara bahwa semua konflik yang terjadi terhadap umat Islam bukan berdasar agama.

Seolah ada satu kesepakatan besar tatkala umat Islam darahnya murah untuk ditumpahkan, maka semua suara harus bulat dan padat dengan kata kunci 'bukan karena agama mereka dibantai habis hingga klimis'. Adanya semacam instruksi global untuk menahan kemarahan umat Islam sedunia dibalut dengan riset-riset social scientist telah membuat halal darah umat Islam. Lagi murah. Sangat murah.

Dengan latar belakang ideologi sekuler, media mainstream dengan hati-hati membungkus fakta lewat rapat ketat redaksi. Mereka terus mempropagandakan motif politik dan ekonomi disebalik peristiwa yang terjadi. Pada konflik yang sedang berlangsung di Myanmar terhadap warga Rakhine etnis muslim Rohingya analisis Siegfried Wolf, kepala bidang penelitian pada South Asia Democratic Forum, dijadikan rujukan utama. Alasan klasik seputar ekonomi dan politik masih dijadikan pegangan yang rasional. Memuakan!.

Rohingya Diantara Kegilaan Dunia

Semua konflik besar yang terjadi dewasa ini hampir selalu beririsan dengan muslim sebagai korban. Saling susul dan salip ketegangan yang terjadi membuat dunia Islam memerah bersimbah darah. Bosnia, Irak, Palesina, Uighur, Syria, Rohingya, semuanya beruntun memukul. Opini Islamphobia di dunia yang gila ini membuat umat Islam dihantam tanpa sebab. Seolah lahirnya mereka kedunia adalah aib yang harus dimusnahkan.

Secara nalar sederhana kita bertanya "Atas sebab apa mereka membenci kita?". Propaganda media yang mengkriminalkan personal muslim, simbol, penampilan hingga ajarannya terus gencar dan serempak. Saat semua muslim sepakat bahwa dunia sedang gila oleh kapitalisme liberal yang radikal dan memiliki banyak kepentingan, maka disegenap jiwa-jiwa muslim yang kuat memunculkan sebuah sikap bahwa kembali pada Islam seutuhnya menjadi satu-satunya tujuan utama. Mencita-citakan sebuah negara yang mampu mengakomodir kepentingan seluruh umat Islam dan ajarannya menjadi titik perjuangan.

Adapun sebagian muslim yang mencari aman, mereka memilih bersifat defensif-apologetik. Dengan dalih moderat, mereka membabi buta membela diri dan menyamakan bahwa Islam juga sama dengan apa yang mereka perjuangkan. Padahal ide yang mereka emban adalah ide yang mengkriminalkan Islam.

Sekulerisme telah ditancapkan kuat menjadi pondasi bagi kegilaan dunia saat ini. Akarnya yang menghujam disetiap sendi kehidupan telah melahirkan sebuah tatanan dunia modern yang harus dilepaskan dari agama. Pondasi ini yang juga menjadi landasan dari keilmuan sosial yang ada. Geopolitik, sosiologi, hukum, manajemen konflik, dan disiplin ilmu sosial lainnya menjadi haram untuk menyatu dengan agama.

Diantara kegilaan dunia ini genosida terhadap muslim Rohingya lahir. Dan justru menjadi lucu ketika mereka berkata bahwa Rohingya murni konflik agama

[Lanjut Bagian dua] Peran Bikhsu Myanmar Propagandakan Rasisme












close