Lupakah Rohingya! Mari Kita Goyang Saja


Kalau seperti ini terus kita semua takut dan miris. Jangan-jangan untuk membedakan diri dari alumni 212 yang cebok pakai tangan kiri. Mereka lebih memilih cebok pakai tangan kanan. Atau parahnya lagi  saat kita lagi makan nasi jangan-jangan mereka makan....

Mujahid 212 - Potret muslim moderat yang kelu dan kaku karena tersumbat dana tengah gagah menghiasi lini masa. Mengaku paling pancasila sembari teriak radikal pada yang tak sejalan. Doyan dangdutan getol bubarkan pengajian. Giliran penindasan terhadap Muslim Rohingya mereka tegaskan bahwa ini tidak ada hubungannya dengan agama.

Lewat ketua umum bidang kepemudaan organisasinya mereka dengan wajah iba memutar-mutar fakta. "kita prihatin, kita prihatin, tapi banyak spekulasi disana, ini bukan masalah agama" Yang pada intinya jangan sampai dikaitkan dengan konflik agama.

Tapi jika dipikir menyangkal mati-matian bahwa konflik rohingya adalah bukan konflik agama itu guna nya apa ya? Supaya umat islam gak usah marah lalu bisa bilang "itu konflik dalam negeri mereka, itu masalah kemanusiaan jangan bawa-bawa agama", gitu? Yang kampanye begitu tau dia bahwa agama bisa menjadi sumber kemarahan, perlawanan sekaligus pembelaan.

Perlu diklarifikasi bahwa bagi umat Islam, apapun latar belakang penindasan, selama yang ditindas adalah muslim, jadi masalah agama. Pembunuhan pada seorang muslim, apapun motifnya, itu masalah agama. Jangankan begitu, pembunuhan terhadap non muslim tanpa hak, adalah masalah agama. Maksudnya, Islam melarang dan akan menghukum pelakunya.

"Ini masalah kemanusiaan, bukan agama?" Memangnya agama (Islam) tidak mengajarkan kemanusiaan? Tidak membela kemanusiaan? Kenapa masalah kemanusiaan harus diserahkan pada wilayah non agama?

Iya, sentimen agama sepanjang sejarah memang dimanfaatkan dan ditunggangi. Oleh siapa? Oleh agama lain. Kristen ditunggangi agama imperialisme, Yahudi ditunggangi agama Kapitalisme.
Semua konflik di dunia tidak akan lepas dari pertarungan antar agama lawan agama. Antara islam dan kekufuran. Itu rumus dari Allah.

Namun entah kenapa seolah mereka memiliki syndrom yang pada intinya harus berbeda dalam segala apapun dengan yang mayoritas alumni 212 lakukan. Mungkin karena terlanjur dalam menuduh radikal. Jika sama dalam satu barisan menjadi merah pipinya.

Keluguan, mentalitas anak TK, menjadi lucu jika dengan seksama kita perhatikan. Semisal pada saat alumni 212 prihatin dengan Suriah dan Rohingya mereka langsung membuat pernyatan dan perilaku yang 160° wajib berbeda. Ini berulang dan terus berulang. Dari isu Ahok hingga bubarkan pengajian dan gelar dangdutan.

Kalau seperti ini terus kita semua takut dan miris. Jangan-jangan untuk membedakan diri dari alumni 212 yang cebok pakai tangan kiri. Mereka lebih memilih cebok pakai tangan kanan. Atau parahnya lagi  saat kita lagi makan nasi jangan-jangan mereka makan....

Astagfirullah...

Ah.. mari berkhusnudzon, mungkin mereka hanya spesialis dangdutan saja?. []

Tulisan ini redaksi olah dan himpun dari curhatan netizen di media sosial





close